Kamis, 12 April 2012

Tugas 2 softskill

1. Jelaskan perbedaan pokok antara moral dengan etika, berikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari!

2. Jelaskan perbedaan pokok antara paham kantianisme dan utilitariansime! Berikan contoh masing-masing! Paham mana yang lebih banyak dianut oleh para profesional/Insinyur di bidang keteknikan? Mengapa?

3. Jelaskan yang dimaksud dengan dilemma moral, beri contoh dalam kejadian dalam kehidupan sehari-hari!.

4. Salah satu syarat untuk menjadi profesional adalah dimilikinya kompetensi dalam bidangnya. Sehubungan dengan hal tersebut jelaskan kompetensi utama dan kompetensi penunjang yang harus dimiliki oleh Sarjana Teknik Industri Indonesia!

JAWAB:

1) Moral dan etika adalah dua hal yang tidak terpisahkan karena pada dasarnya moral adalah faktor motivasi yang berhubungan dengan produktivitas dan produk atau hasil kualitas pelayanan dan juga merupakan tingkah laku yang telah ditentukan oleh etika, sedangkan etika sendiri yaitu ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Jelas sekali perbedaan moral dan etika seperti pembahasan diatas, tetapi etika dan moral merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang harus dimiliki oleh semua orang. Contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat dari moral atau moralitas digunakan untuk penilaian perbuatan yang dilakukan misalnya kita melihat seseorang yang melakukan kejahatan maka kita dapat menilai perbuatan itu tidak baik dan dapat dikatakan bahwa perbuatan orang itu tidak bermoral, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika dalam kehidupan sehari-hari lebih kepada ilmunya atau batasan-batasannya.
carapedia.com/pengertian_definisi_moral_info2097.html

2) Seorang pembunuh yang tertangkap pihak kepolisian maka harus dihukum. Bagi seorang penganut paham kantianisme, pembunuh tersebut harus dihukum tepat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Bila tidak dihukum, penganut kantianisme akan merasa hal tersebut adalah hal yang salah dan sama seperti menghukum orang yang tidak bersalah. Proses hukum yang dilakukan juga merupakan tanda bahwa setiap pihak (baik pihak yang benar atau pun pihak yang salah) diakui sebagai subyek moral yang memiliki hak untuk dibela jika benar dan berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum jika berbuat salah.
Paham utilitarianisme tidak mengutamakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Paham ini berpusat pada pemenuhan manfaat bagi banyak orang. Menurut paham ini, suatu keputusan harus diambil berdasarkan asas manfaat. Orang yang berpikir berdasarkan pemahaman ini dalam mengambil keputusan akan berpedoman pada alternatif manakah yang dapat memberikan manfaat yang paling banyak bagi seluruh pihak.
Contoh paham utilitarianisme:
     Seorang pembunuh yang tertangkap pihak kepolisian maka harus dihukum. Bagi seorang penganut paham utilitarianisme, pembunuh tersebut harus dihukum agar masyarakat sekitar tidak menjadi korban atau menjadi pemakai narkoba. Manfaat yang diperoleh akan lebih besar bila si pembunuh tersebut dihukum. Bahkan jika hukuman yang diberikan sangat parah (misalnya penjara seumur hidup atau hukuman mati) maka hukuman tersebut tetap dibenarkan.
     Paham yang lebih banyak dianut oleh para profesional atau insinyur di bidang keteknikan adalah paham utilitarianisme. Hal ini disebabkan karena paham ini berpedoman pada pemikiran manfaat manakah yang lebih besar. Para profesional dan insinyur di bidang keteknikan umumnya lebih mengutamakan pengambilan keputusan yang dapat memberikan manfaat yang paling banyak bagi semua pihak dengan
(Sumber: Wattimena, Reza A. A. Filsafat dan Sains sebuah Pengantar. Jakarta: Grasindo)

3) Dilemma moral adalah suatu keadaan jika seseorang atau sekelompok masyrakat menghadapi satusituasi berkonflik dimana terdapat beberapa pilihan dalam membuat sesuatu keputusan moral.Contoh : seorang anak yang bingung menentukan pilihan sekolahnya, di satu sisi dia harus menuruti orang tuanya sementara dia punya keyakinan dan pilihan sendiri. 

4)  Kompetensi utama yang harus dimiliki oleh Sarjana Teknik Industri Indonesia pada dasarnya adalah Mampu bekerja di lingkungan global, yang didukung oleh sikap, perilaku profesional, dan etika yang baik. keterampilan analitis dan keterampilan memecahkan masalah. Seorang Sarjana Teknik Industri di dalam dunia kerja berperan sebagai pemberi solusi untuk masalah-masalah yang ada di perusahaan. Dibutuhkannya suatu pola pikir yang kritis untuk menunjang dalam menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam dunia industri.